Minggu, 11 Oktober 2015

mulailah sesuatu dengan bismillah insya Allah selalu dalam lindungan Nya

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas berkat dan rahmat yang telah diberikan-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya.Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen yang mengajarkan mata kuliah Kimia Lingkungan,karena berkat bimbingan dari beliau kami bisa menyelesaikan  Makalah yang berjudul “Pengolahan Limbah Cair” disusun sebagai tugas Kimia Lingkungan yang bertujuan menambah wawasan dan kepeduliaan kita terhadap lingkungan. Kami berharap dengan adanya makalah ini kita dapat lebih peduli terhadap lingkungan.
Kami Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih memerlukan perbaikan.Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.Semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
                                                                                                                                   
                                                                                                                Medan,21 Oktober 2014
                                                                                                                                   
                                                                                                                            Penyusun













                                                                                                                                    i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                                 i     
Daftar Isi                                                                                                           ii    
Bab I                                                                                                                       
Pendahuluan                                                                                                     1
Rumusan Masalah                                                                                             1
Tujuan                                                                                                               1
Bab II                                                                                                               
Pembahasan                                                                                                            
1.1  Pengolahan Limbah Cair                                                                             2
                                                                                                                    
1.2  Pengolahan Limbah Primer                                                                          2-3

1.3  Pengolahan Linbah Sekunder                                                                      3-4

1.4  Pengolahan Limbah Tersier                                                                         4-6

1.5  Pengendalian Pencemaran Air                                                                     6

1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun                                  7
Bab III                                                                                                              
Penutup
Kesimpulan                                                                                                        8
Daftar Pustaka                                                                                                   9



                             


ii
BAB I
PENDAHULUAN
Bumi sebagian besar terdiri atas air karena luas daratan lebih kecil dibandingkan luas lautan. Dimana air juga menjadi kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Hampir semua poses kehidupan yang terjadi di bumi, membutuhkan air. Begitu pentinganya air, sehingga perhatian khusus untuk zat satu ini perlu ditingkatkan.Di perkotaan misalnya, air digunakan untuk mandi, mencuci, transportasi, dan minum tentunya.Dipedesaan air bertambah fungsi sebagai sumber mata pencaharian seperti nelayan dan pengairan pertanian.Dunia industri juga banyak memanfaatkan air dalam prosesnya, seperti air ketel uap penggerak turbin, pembangkit listrik dll.
Akan tetapi, kegiatan manusia tersebut telah membuat berkurangnya kualitas air, bahkan membuat kulitas air hingga ketititk pencemaran air, sehingga air tak dapat lagi digunakan karena berbahaya bagi kesehatan. Hal ini dimulai dari pengambilan debit air dalam jumlah yang besar yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air, sampai pada pengolahan air dalam industri dan perumahan yang menghasilkan berbagai macam limbah.
Apabila pengelolah kegiatan industri memperhatikan dan melaksanakan pengolahan air limbah hasil industri dan masyarakat umum juga tidak lagi membuang limbahnya secara langsung ke lingkungan, maka masalah pencemaran air tidak perlu dikhawatirkan.Namun, kenyatannya masih banyak industri atau suatu pusat kegiatan kerja dan masyarakat umum yang membuang limbahnya langsung ke lingkungan melalui sungai, danau, atau langsung ke laut.Pembuangan secara langsung inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran air.
Disisi lain, kegunaan dari pengolahan limbah cair belum secara menyeluruh dipahami oleh semua pihak yaitu pemerintah dan masyarakatnya. Ini bisa dilihat dari beberapa aturan pemerintah yang terkesan tidak dilaksanakan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah negatif bagi lingkungan dikemudian hari.
Oleh karena itu, kami menyusun makalah berjudul “Pengolahan Limbah Cair di Lingkungan”, sebagai bahan referensi dan sosialisasi serta menimbulkan kesadaran kepada semua pihak yang merasa perlu melakukan pengolahan limbah cair guna memperkecil angka pencemaran lingkungan dan mewujudkan lingkungan yang sehat serta menjadi pendorong bagi pemerintah dan masyarakat untuk berperan mewujudkan Negara yang ramah lingkungan.
Rumusan masalah
1.      Minimnya Informasi bagi masyarakat dan pelaku kegiatan industri tentang metode atau cara pengolahan limbah cair.
2.      Kurangnya sosialisasi tentang bahaya limbah cair bagi masayarakat serta dampak positif dari kegiatan pengolahan limbah cair itu sendiri.
Tujuan
Ø  Dengan penyusunan makalah berjudul ‘Metode Pengolahan Limbah Cair’ ini, diharapkan masyarakat umum dan pelaku kegiatan industri dapat melaksanakan swakelola limbah cair yang berada dilingkungannya, sehingga pencemaran air dapat diminimalisasikan dan terwujud lingkungan masyarakat yang sehat.
Ø  Mengetahui pengolahan limbah primer,limbah sekunder,dan limbah tersier.
Ø  Mengetahui cara pengendalian pencemaran air.
Ø  Mengetahui cara pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.
                                                                                                                                       1
BAB II
PEMBAHASAN
1.1  Pengolahan Limbah Cair
Air berupa limbah cair umumnya mengandung beberapa komponen pencemar seperti senyawa kimia pengoksidasi dan pereduksi, sedimen, kotororan, lumpur, minyak, bakteri pathogen, virus,garam, nutrient, pestisida,senyawa organic, logam berat dan bahan lain yang mengapung dan melayang dan tersuspensi di dalam air.Untuk menggambarkan karakteristik limbah cair sebagai indikator  tingkat pencemar di dalam air limbah maka dapat di lakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar. Untuk menggambarkan tingkat karakteristik limbah cair sebagai indikator tingkat pencemar di dalam limbah, maka dapat dilakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar yang umumnya adalah senyawa organic dan anorganik meliputi pengukuran kekeruhan (intensitas cahaya, turbiditas), kelarutan zat padat (ppm), kelarutan zat tersuspensi (ppm),tingkat keasaman(Ph),kelarutan oksigen (DO),dan kebutuhan oksigen kimia(COD). Tahap pertama yang dilakukan adalah melakukan pengukuran kadar senyawa organic di dalam limbah. Pengukuran kasar yang sering digunakan adalah secara titrasi menggunakan kalium pemanganat,yaitu dengan mengetahui jumlah pemanganat yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan limbah,sehingga akan memberikan gambaran banyaknya senyawa organic di dalam limbah.indikator lain yang digunakan adalah mengukur DO dan COD untuk memberikan tingkat ketercemaran air limbah .Semuanya ini hanya sebagai bahan dasar untuk perkiraan saja.Usaha yang paling perlu di lakukan adalah memisahkan bahan-bahan pencemar ini dari dalam air sehingga air dapat dipergunakan kembali disebut pengolahan limbah cair.
Langkah yang digunakan pada proses untuk mengolah limbah cair dapat dibagi menjadi 3 kelompok ,yaitu:
1.      Pengolahan limbah primer
2.      Pengolahan limbah sekunder
3.      Pengolahan tersier





2
1.2  Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisika.
A.      Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring.Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
B.      Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya. 
C.      Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air libah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).



3
D.      Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.

1.3  Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
a.       Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
4
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

b.      Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.
c.        Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat.Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurkan untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

1.4 Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
                                                                                                                                                   5

Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.
Pengolahan limbah tersier dapat dikategorikan menjadi :
1.      Pembebasan bahan padat tersuspensi
2.      Menghilangkan bahan organic terlarut
3.      Penghilangan bahan anorganik terlarut
Setiap tahapan pengolahan air ini mempunyai tingkat kesulitan bervariasi tergantung pada kualitas air  limbah hasil pengolahan sekunder .Bahan padat tersuspensi adalah sebagai bahan sisa pengolahan mikroorganisme yang terdapat pada bak sedimentasi sekunder. Sedangkan senyawa organic terlarut adalah bahan organic yang berbahaya berpotensi sebagai senyawa beracun terhadap makhluk hidup.Masalah yang paling utama adalah senyawa anorganik terlarut yang biasanya dibutuhkan oleh alga sebagai nutrient biasanya sebagai senyawa nittrat dan fosfat. Senyawa anorganik lain yang sangat berbahaya adalah ion-ion logam,terutama logam berat dan beracun.
                                                                                                                                            
            Karena air yang diolah adalah berasal dari pengolahan sekunder maka mikroorganisme yang masih terikut di dalam air masih sangat banyak.Agar air layak dikonsumsi maka perlu dilakukan pembebasan mikroorganisme dari dalam air,terutama jenis organisme pathogen yang dapat menimbulkan penyakit.Beberapa jenis bakteri yang sering dijumpai di dalam air diantaranya adalah bakteri penyebab penyakit.

Ø  Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
•          Daya racun zat
•          Waktu kontak yang diperlukan
•          Efektivitas zat
•          Kadar dosis yang digunakan
•          Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
•          Tahan terhadap air
•          Biayanya murah

                                                                                                                                                   6
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
Ø  Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
                                                                                                                                                  
1.5 Pengendalian Pencemaran Air
            Di indonesia program pengendalian pencemaran air telah di laksanankan pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama masyarakat industri seperti Porgram Kali Bersih Atau PROKASIH adalah prongram kerja pengendalian pencemaran air sungai dengan tujuan untuk meningkatkan Kualitas air sungai agar tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Program ini dituangkan dalam keputusan mentri negara lingkungan hidup nomor: kep-35/Menlh/7/1995 Tentang Program Kali Bersih. Dengan pertimbangan:
a.       Bahwa kali atau sungai merupakan sunber daya air yang penting bagi kebutuhan hidup manusia dan makhluk lainnya.
b.      Bahwa kualitas air sungai cendrung menurun sebagai akibat meningkatnya beban pencemaran yang bersumber dari kegiatan disepanjang aliaran sungai.
c.       Bahwa untuk meningkatkan kulitas air sungai agar tetap berfungsi sesui dengan peruntukannya, pemerintah telah mencanangkan Program Kali Bersih.
d.      Bahwa Program Kali Bersih tersebut telah di laksanakan oleh pemerintah daerah di berbagi provinsi pada beberapa sungai dengan melibatkan berbagai instansi terkait di daerah.
e.       Bahwa untuk memantapkan keberadaan Program Kali Bersih sebagai Program Nasional dan untuk meningkatkan kelancaran serta mengembangkan kegiatan Program Kali Bersih, maka di pandang perlu menetapkan keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup tentang Program Kali Bersih. 
Pemerintah juga berusaha untuk menjga kualitas air dengan membuat Peraturan Pengendalian Air sebagai upaya untuk melanksanakan ketentuan pasal 41 Ayat 7 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air,Maka Di Tetapkan Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup Tentang Pedoman Mengenaisarat Dan Tata Cara Perijinan Serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah Keair Atau Sumber Air.






                                                                                                                                       7
1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia sudah diatur dalam
Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1999 . Pada   BAB I, Ketentuan Umum ,Pasal 1 dalam Peraturan Pemerintah ini diberikan penjelasan :
1.      Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
2.      Limbah bahan berbahan dan beracun ,disingkat limbah B3 ,adalah sisa suatu dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan /atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasi nya dan/atau jumlahnya,baik secara langsung maupun tidak langsung,dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,dan/atau dapat membahayakann lingkungan hidup,kesehatan ,kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.    
3.      Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi ,penyimpanan,pengumpulan,pengangkutan,pemanfaatan,pengelolaan,dan penimbunan limbah B3
4.      Reduksi  limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3,sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan.
5.      Penghasil limbah B3 adlah orang yang usaha dan/atau kegiatan nya menghasilkan limbah B3
6.      Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpul dengan tujuan untuk mengunpulkan limbah B3 sebelum dikirim ketempat pengelolaan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3.
7.      Pengangkut limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3
8.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3.
9.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang mengoperasikan sarana pengolahan limbah B3
10.  Penimbunan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3.


















                                                                                                                                                   8

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk mengetahui suatu limbah merupakan limbah berbahaya dan beracun atau bukan dapat dengan melakukan uji kualitatif dan kuantitatif.Dalam uji kuantitatif dapat menggunakan parameter pH, reaktifitas air, pengoksidasian, mudah terbakar, kandungan amonia, kandungan sianida dan kandungan sulfida.
Membutuhkan peran semua pihak untuk mewujudkan pengelolaan yang lebih baik dalam setiap masalah lingkungan.Pemerintah,pelaku industri dan masyarakat umum butuh informasi yang lengkap dan akurat tentang pengolahan limbah cair. Makalah ini kemudian kedepannya dapat digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan guna menyiasati masalah pengolahan limbah cair dan masayarakat dihimbau mampu meminimalisir limbah-limbah terutama pada limbah rumah tangga
Pengolahan limbah terdiri dari 3 yaitu,pengolahan limbah primer,sekunder,dan tersier.


































9
                                                                                                                                                  
DAFTAR PUSTAKA

Koosbandiah, Hertien Surikarti. (2011). Tosikologi Lingkungan dan Metode Uji Hayati.Bandung : Rizqi Press.

Situmorang,Manihar.2012.Kimia Lingkungan.Medan.Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Universitas Negeri Medan.
Anonim.(2010).Pengelolaanlimbah B3[Online].Tersedia:http://k3pelakan.blogspot.com/2010/11/pengelolaan limbah bahan bebahaya dan html.[10 Oktober 2014].



           








 KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas berkat dan rahmat yang telah diberikan-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya.Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen yang mengajarkan mata kuliah Kimia Lingkungan,karena berkat bimbingan dari beliau kami bisa menyelesaikan  Makalah yang berjudul “Pengolahan Limbah Cair” disusun sebagai tugas Kimia Lingkungan yang bertujuan menambah wawasan dan kepeduliaan kita terhadap lingkungan. Kami berharap dengan adanya makalah ini kita dapat lebih peduli terhadap lingkungan.
Kami Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih memerlukan perbaikan.Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.Semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
                                                                                                                                   
                                                                                                                Medan,21 Oktober 2014
                                                                                                                                   
                                                                                                                            Penyusun













                                                                                                                                    i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                                 i     
Daftar Isi                                                                                                           ii    
Bab I                                                                                                                       
Pendahuluan                                                                                                     1
Rumusan Masalah                                                                                             1
Tujuan                                                                                                               1
Bab II                                                                                                               
Pembahasan                                                                                                            
1.1  Pengolahan Limbah Cair                                                                             2
                                                                                                                    
1.2  Pengolahan Limbah Primer                                                                          2-3

1.3  Pengolahan Linbah Sekunder                                                                      3-4

1.4  Pengolahan Limbah Tersier                                                                         4-6

1.5  Pengendalian Pencemaran Air                                                                     6

1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun                                  7
Bab III                                                                                                              
Penutup
Kesimpulan                                                                                                        8
Daftar Pustaka                                                                                                   9



                             


ii
BAB I
PENDAHULUAN
Bumi sebagian besar terdiri atas air karena luas daratan lebih kecil dibandingkan luas lautan. Dimana air juga menjadi kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Hampir semua poses kehidupan yang terjadi di bumi, membutuhkan air. Begitu pentinganya air, sehingga perhatian khusus untuk zat satu ini perlu ditingkatkan.Di perkotaan misalnya, air digunakan untuk mandi, mencuci, transportasi, dan minum tentunya.Dipedesaan air bertambah fungsi sebagai sumber mata pencaharian seperti nelayan dan pengairan pertanian.Dunia industri juga banyak memanfaatkan air dalam prosesnya, seperti air ketel uap penggerak turbin, pembangkit listrik dll.
Akan tetapi, kegiatan manusia tersebut telah membuat berkurangnya kualitas air, bahkan membuat kulitas air hingga ketititk pencemaran air, sehingga air tak dapat lagi digunakan karena berbahaya bagi kesehatan. Hal ini dimulai dari pengambilan debit air dalam jumlah yang besar yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air, sampai pada pengolahan air dalam industri dan perumahan yang menghasilkan berbagai macam limbah.
Apabila pengelolah kegiatan industri memperhatikan dan melaksanakan pengolahan air limbah hasil industri dan masyarakat umum juga tidak lagi membuang limbahnya secara langsung ke lingkungan, maka masalah pencemaran air tidak perlu dikhawatirkan.Namun, kenyatannya masih banyak industri atau suatu pusat kegiatan kerja dan masyarakat umum yang membuang limbahnya langsung ke lingkungan melalui sungai, danau, atau langsung ke laut.Pembuangan secara langsung inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran air.
Disisi lain, kegunaan dari pengolahan limbah cair belum secara menyeluruh dipahami oleh semua pihak yaitu pemerintah dan masyarakatnya. Ini bisa dilihat dari beberapa aturan pemerintah yang terkesan tidak dilaksanakan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah negatif bagi lingkungan dikemudian hari.
Oleh karena itu, kami menyusun makalah berjudul “Pengolahan Limbah Cair di Lingkungan”, sebagai bahan referensi dan sosialisasi serta menimbulkan kesadaran kepada semua pihak yang merasa perlu melakukan pengolahan limbah cair guna memperkecil angka pencemaran lingkungan dan mewujudkan lingkungan yang sehat serta menjadi pendorong bagi pemerintah dan masyarakat untuk berperan mewujudkan Negara yang ramah lingkungan.
Rumusan masalah
1.      Minimnya Informasi bagi masyarakat dan pelaku kegiatan industri tentang metode atau cara pengolahan limbah cair.
2.      Kurangnya sosialisasi tentang bahaya limbah cair bagi masayarakat serta dampak positif dari kegiatan pengolahan limbah cair itu sendiri.
Tujuan
Ø  Dengan penyusunan makalah berjudul ‘Metode Pengolahan Limbah Cair’ ini, diharapkan masyarakat umum dan pelaku kegiatan industri dapat melaksanakan swakelola limbah cair yang berada dilingkungannya, sehingga pencemaran air dapat diminimalisasikan dan terwujud lingkungan masyarakat yang sehat.
Ø  Mengetahui pengolahan limbah primer,limbah sekunder,dan limbah tersier.
Ø  Mengetahui cara pengendalian pencemaran air.
Ø  Mengetahui cara pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.
                                                                                                                                       1
BAB II
PEMBAHASAN
1.1  Pengolahan Limbah Cair
Air berupa limbah cair umumnya mengandung beberapa komponen pencemar seperti senyawa kimia pengoksidasi dan pereduksi, sedimen, kotororan, lumpur, minyak, bakteri pathogen, virus,garam, nutrient, pestisida,senyawa organic, logam berat dan bahan lain yang mengapung dan melayang dan tersuspensi di dalam air.Untuk menggambarkan karakteristik limbah cair sebagai indikator  tingkat pencemar di dalam air limbah maka dapat di lakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar. Untuk menggambarkan tingkat karakteristik limbah cair sebagai indikator tingkat pencemar di dalam limbah, maka dapat dilakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar yang umumnya adalah senyawa organic dan anorganik meliputi pengukuran kekeruhan (intensitas cahaya, turbiditas), kelarutan zat padat (ppm), kelarutan zat tersuspensi (ppm),tingkat keasaman(Ph),kelarutan oksigen (DO),dan kebutuhan oksigen kimia(COD). Tahap pertama yang dilakukan adalah melakukan pengukuran kadar senyawa organic di dalam limbah. Pengukuran kasar yang sering digunakan adalah secara titrasi menggunakan kalium pemanganat,yaitu dengan mengetahui jumlah pemanganat yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan limbah,sehingga akan memberikan gambaran banyaknya senyawa organic di dalam limbah.indikator lain yang digunakan adalah mengukur DO dan COD untuk memberikan tingkat ketercemaran air limbah .Semuanya ini hanya sebagai bahan dasar untuk perkiraan saja.Usaha yang paling perlu di lakukan adalah memisahkan bahan-bahan pencemar ini dari dalam air sehingga air dapat dipergunakan kembali disebut pengolahan limbah cair.
Langkah yang digunakan pada proses untuk mengolah limbah cair dapat dibagi menjadi 3 kelompok ,yaitu:
1.      Pengolahan limbah primer
2.      Pengolahan limbah sekunder
3.      Pengolahan tersier





2
1.2  Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisika.
A.      Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring.Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
B.      Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya. 
C.      Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air libah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).



3
D.      Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.

1.3  Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
a.       Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
4
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

b.      Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.
c.        Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat.Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurkan untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

1.4 Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
                                                                                                                                                   5

Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.
Pengolahan limbah tersier dapat dikategorikan menjadi :
1.      Pembebasan bahan padat tersuspensi
2.      Menghilangkan bahan organic terlarut
3.      Penghilangan bahan anorganik terlarut
Setiap tahapan pengolahan air ini mempunyai tingkat kesulitan bervariasi tergantung pada kualitas air  limbah hasil pengolahan sekunder .Bahan padat tersuspensi adalah sebagai bahan sisa pengolahan mikroorganisme yang terdapat pada bak sedimentasi sekunder. Sedangkan senyawa organic terlarut adalah bahan organic yang berbahaya berpotensi sebagai senyawa beracun terhadap makhluk hidup.Masalah yang paling utama adalah senyawa anorganik terlarut yang biasanya dibutuhkan oleh alga sebagai nutrient biasanya sebagai senyawa nittrat dan fosfat. Senyawa anorganik lain yang sangat berbahaya adalah ion-ion logam,terutama logam berat dan beracun.
                                                                                                                                            
            Karena air yang diolah adalah berasal dari pengolahan sekunder maka mikroorganisme yang masih terikut di dalam air masih sangat banyak.Agar air layak dikonsumsi maka perlu dilakukan pembebasan mikroorganisme dari dalam air,terutama jenis organisme pathogen yang dapat menimbulkan penyakit.Beberapa jenis bakteri yang sering dijumpai di dalam air diantaranya adalah bakteri penyebab penyakit.

Ø  Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
•          Daya racun zat
•          Waktu kontak yang diperlukan
•          Efektivitas zat
•          Kadar dosis yang digunakan
•          Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
•          Tahan terhadap air
•          Biayanya murah

                                                                                                                                                   6
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
Ø  Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
                                                                                                                                                  
1.5 Pengendalian Pencemaran Air
            Di indonesia program pengendalian pencemaran air telah di laksanankan pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama masyarakat industri seperti Porgram Kali Bersih Atau PROKASIH adalah prongram kerja pengendalian pencemaran air sungai dengan tujuan untuk meningkatkan Kualitas air sungai agar tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Program ini dituangkan dalam keputusan mentri negara lingkungan hidup nomor: kep-35/Menlh/7/1995 Tentang Program Kali Bersih. Dengan pertimbangan:
a.       Bahwa kali atau sungai merupakan sunber daya air yang penting bagi kebutuhan hidup manusia dan makhluk lainnya.
b.      Bahwa kualitas air sungai cendrung menurun sebagai akibat meningkatnya beban pencemaran yang bersumber dari kegiatan disepanjang aliaran sungai.
c.       Bahwa untuk meningkatkan kulitas air sungai agar tetap berfungsi sesui dengan peruntukannya, pemerintah telah mencanangkan Program Kali Bersih.
d.      Bahwa Program Kali Bersih tersebut telah di laksanakan oleh pemerintah daerah di berbagi provinsi pada beberapa sungai dengan melibatkan berbagai instansi terkait di daerah.
e.       Bahwa untuk memantapkan keberadaan Program Kali Bersih sebagai Program Nasional dan untuk meningkatkan kelancaran serta mengembangkan kegiatan Program Kali Bersih, maka di pandang perlu menetapkan keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup tentang Program Kali Bersih. 
Pemerintah juga berusaha untuk menjga kualitas air dengan membuat Peraturan Pengendalian Air sebagai upaya untuk melanksanakan ketentuan pasal 41 Ayat 7 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air,Maka Di Tetapkan Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup Tentang Pedoman Mengenaisarat Dan Tata Cara Perijinan Serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah Keair Atau Sumber Air.






                                                                                                                                       7
1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia sudah diatur dalam
Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1999 . Pada   BAB I, Ketentuan Umum ,Pasal 1 dalam Peraturan Pemerintah ini diberikan penjelasan :
1.      Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
2.      Limbah bahan berbahan dan beracun ,disingkat limbah B3 ,adalah sisa suatu dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan /atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasi nya dan/atau jumlahnya,baik secara langsung maupun tidak langsung,dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,dan/atau dapat membahayakann lingkungan hidup,kesehatan ,kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.    
3.      Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi ,penyimpanan,pengumpulan,pengangkutan,pemanfaatan,pengelolaan,dan penimbunan limbah B3
4.      Reduksi  limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3,sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan.
5.      Penghasil limbah B3 adlah orang yang usaha dan/atau kegiatan nya menghasilkan limbah B3
6.      Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpul dengan tujuan untuk mengunpulkan limbah B3 sebelum dikirim ketempat pengelolaan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3.
7.      Pengangkut limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3
8.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3.
9.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang mengoperasikan sarana pengolahan limbah B3
10.  Penimbunan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3.


















                                                                                                                                                   8

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk mengetahui suatu limbah merupakan limbah berbahaya dan beracun atau bukan dapat dengan melakukan uji kualitatif dan kuantitatif.Dalam uji kuantitatif dapat menggunakan parameter pH, reaktifitas air, pengoksidasian, mudah terbakar, kandungan amonia, kandungan sianida dan kandungan sulfida.
Membutuhkan peran semua pihak untuk mewujudkan pengelolaan yang lebih baik dalam setiap masalah lingkungan.Pemerintah,pelaku industri dan masyarakat umum butuh informasi yang lengkap dan akurat tentang pengolahan limbah cair. Makalah ini kemudian kedepannya dapat digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan guna menyiasati masalah pengolahan limbah cair dan masayarakat dihimbau mampu meminimalisir limbah-limbah terutama pada limbah rumah tangga
Pengolahan limbah terdiri dari 3 yaitu,pengolahan limbah primer,sekunder,dan tersier.


































9
                                                                                                                                                  
DAFTAR PUSTAKA

Koosbandiah, Hertien Surikarti. (2011). Tosikologi Lingkungan dan Metode Uji Hayati.Bandung : Rizqi Press.

Situmorang,Manihar.2012.Kimia Lingkungan.Medan.Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Universitas Negeri Medan.
Anonim.(2010).Pengelolaanlimbah B3[Online].Tersedia:http://k3pelakan.blogspot.com/2010/11/pengelolaan limbah bahan bebahaya dan html.[10 Oktober 2014].



           
































10KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas berkat dan rahmat yang telah diberikan-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya.Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen yang mengajarkan mata kuliah Kimia Lingkungan,karena berkat bimbingan dari beliau kami bisa menyelesaikan  Makalah yang berjudul “Pengolahan Limbah Cair” disusun sebagai tugas Kimia Lingkungan yang bertujuan menambah wawasan dan kepeduliaan kita terhadap lingkungan. Kami berharap dengan adanya makalah ini kita dapat lebih peduli terhadap lingkungan.
Kami Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih memerlukan perbaikan.Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik lagi.Semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
                                                                                                                                   
                                                                                                                Medan,21 Oktober 2014
                                                                                                                                   
                                                                                                                            Penyusun













                                                                                                                                    i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                                 i     
Daftar Isi                                                                                                           ii    
Bab I                                                                                                                       
Pendahuluan                                                                                                     1
Rumusan Masalah                                                                                             1
Tujuan                                                                                                               1
Bab II                                                                                                               
Pembahasan                                                                                                            
1.1  Pengolahan Limbah Cair                                                                             2
                                                                                                                    
1.2  Pengolahan Limbah Primer                                                                          2-3

1.3  Pengolahan Linbah Sekunder                                                                      3-4

1.4  Pengolahan Limbah Tersier                                                                         4-6

1.5  Pengendalian Pencemaran Air                                                                     6

1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun                                  7
Bab III                                                                                                              
Penutup
Kesimpulan                                                                                                        8
Daftar Pustaka                                                                                                   9



                             


ii
BAB I
PENDAHULUAN
Bumi sebagian besar terdiri atas air karena luas daratan lebih kecil dibandingkan luas lautan. Dimana air juga menjadi kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Hampir semua poses kehidupan yang terjadi di bumi, membutuhkan air. Begitu pentinganya air, sehingga perhatian khusus untuk zat satu ini perlu ditingkatkan.Di perkotaan misalnya, air digunakan untuk mandi, mencuci, transportasi, dan minum tentunya.Dipedesaan air bertambah fungsi sebagai sumber mata pencaharian seperti nelayan dan pengairan pertanian.Dunia industri juga banyak memanfaatkan air dalam prosesnya, seperti air ketel uap penggerak turbin, pembangkit listrik dll.
Akan tetapi, kegiatan manusia tersebut telah membuat berkurangnya kualitas air, bahkan membuat kulitas air hingga ketititk pencemaran air, sehingga air tak dapat lagi digunakan karena berbahaya bagi kesehatan. Hal ini dimulai dari pengambilan debit air dalam jumlah yang besar yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air, sampai pada pengolahan air dalam industri dan perumahan yang menghasilkan berbagai macam limbah.
Apabila pengelolah kegiatan industri memperhatikan dan melaksanakan pengolahan air limbah hasil industri dan masyarakat umum juga tidak lagi membuang limbahnya secara langsung ke lingkungan, maka masalah pencemaran air tidak perlu dikhawatirkan.Namun, kenyatannya masih banyak industri atau suatu pusat kegiatan kerja dan masyarakat umum yang membuang limbahnya langsung ke lingkungan melalui sungai, danau, atau langsung ke laut.Pembuangan secara langsung inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran air.
Disisi lain, kegunaan dari pengolahan limbah cair belum secara menyeluruh dipahami oleh semua pihak yaitu pemerintah dan masyarakatnya. Ini bisa dilihat dari beberapa aturan pemerintah yang terkesan tidak dilaksanakan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah negatif bagi lingkungan dikemudian hari.
Oleh karena itu, kami menyusun makalah berjudul “Pengolahan Limbah Cair di Lingkungan”, sebagai bahan referensi dan sosialisasi serta menimbulkan kesadaran kepada semua pihak yang merasa perlu melakukan pengolahan limbah cair guna memperkecil angka pencemaran lingkungan dan mewujudkan lingkungan yang sehat serta menjadi pendorong bagi pemerintah dan masyarakat untuk berperan mewujudkan Negara yang ramah lingkungan.
Rumusan masalah
1.      Minimnya Informasi bagi masyarakat dan pelaku kegiatan industri tentang metode atau cara pengolahan limbah cair.
2.      Kurangnya sosialisasi tentang bahaya limbah cair bagi masayarakat serta dampak positif dari kegiatan pengolahan limbah cair itu sendiri.
Tujuan
Ø  Dengan penyusunan makalah berjudul ‘Metode Pengolahan Limbah Cair’ ini, diharapkan masyarakat umum dan pelaku kegiatan industri dapat melaksanakan swakelola limbah cair yang berada dilingkungannya, sehingga pencemaran air dapat diminimalisasikan dan terwujud lingkungan masyarakat yang sehat.
Ø  Mengetahui pengolahan limbah primer,limbah sekunder,dan limbah tersier.
Ø  Mengetahui cara pengendalian pencemaran air.
Ø  Mengetahui cara pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.
                                                                                                                                       1
BAB II
PEMBAHASAN
1.1  Pengolahan Limbah Cair
Air berupa limbah cair umumnya mengandung beberapa komponen pencemar seperti senyawa kimia pengoksidasi dan pereduksi, sedimen, kotororan, lumpur, minyak, bakteri pathogen, virus,garam, nutrient, pestisida,senyawa organic, logam berat dan bahan lain yang mengapung dan melayang dan tersuspensi di dalam air.Untuk menggambarkan karakteristik limbah cair sebagai indikator  tingkat pencemar di dalam air limbah maka dapat di lakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar. Untuk menggambarkan tingkat karakteristik limbah cair sebagai indikator tingkat pencemar di dalam limbah, maka dapat dilakukan pengukuran kualitas air limbah biasanya disebabkan oleh kehadiran senyawa pencemar yang umumnya adalah senyawa organic dan anorganik meliputi pengukuran kekeruhan (intensitas cahaya, turbiditas), kelarutan zat padat (ppm), kelarutan zat tersuspensi (ppm),tingkat keasaman(Ph),kelarutan oksigen (DO),dan kebutuhan oksigen kimia(COD). Tahap pertama yang dilakukan adalah melakukan pengukuran kadar senyawa organic di dalam limbah. Pengukuran kasar yang sering digunakan adalah secara titrasi menggunakan kalium pemanganat,yaitu dengan mengetahui jumlah pemanganat yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan limbah,sehingga akan memberikan gambaran banyaknya senyawa organic di dalam limbah.indikator lain yang digunakan adalah mengukur DO dan COD untuk memberikan tingkat ketercemaran air limbah .Semuanya ini hanya sebagai bahan dasar untuk perkiraan saja.Usaha yang paling perlu di lakukan adalah memisahkan bahan-bahan pencemar ini dari dalam air sehingga air dapat dipergunakan kembali disebut pengolahan limbah cair.
Langkah yang digunakan pada proses untuk mengolah limbah cair dapat dibagi menjadi 3 kelompok ,yaitu:
1.      Pengolahan limbah primer
2.      Pengolahan limbah sekunder
3.      Pengolahan tersier





2
1.2  Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara fisika.
A.      Penyaringa (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring.Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.
B.      Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya. 
C.      Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air libah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).



3
D.      Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya.

1.3  Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
a.       Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.
4
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

b.      Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.
c.        Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat.Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurkan untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

1.4 Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
                                                                                                                                                   5

Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.
Pengolahan limbah tersier dapat dikategorikan menjadi :
1.      Pembebasan bahan padat tersuspensi
2.      Menghilangkan bahan organic terlarut
3.      Penghilangan bahan anorganik terlarut
Setiap tahapan pengolahan air ini mempunyai tingkat kesulitan bervariasi tergantung pada kualitas air  limbah hasil pengolahan sekunder .Bahan padat tersuspensi adalah sebagai bahan sisa pengolahan mikroorganisme yang terdapat pada bak sedimentasi sekunder. Sedangkan senyawa organic terlarut adalah bahan organic yang berbahaya berpotensi sebagai senyawa beracun terhadap makhluk hidup.Masalah yang paling utama adalah senyawa anorganik terlarut yang biasanya dibutuhkan oleh alga sebagai nutrient biasanya sebagai senyawa nittrat dan fosfat. Senyawa anorganik lain yang sangat berbahaya adalah ion-ion logam,terutama logam berat dan beracun.
                                                                                                                                            
            Karena air yang diolah adalah berasal dari pengolahan sekunder maka mikroorganisme yang masih terikut di dalam air masih sangat banyak.Agar air layak dikonsumsi maka perlu dilakukan pembebasan mikroorganisme dari dalam air,terutama jenis organisme pathogen yang dapat menimbulkan penyakit.Beberapa jenis bakteri yang sering dijumpai di dalam air diantaranya adalah bakteri penyebab penyakit.

Ø  Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
•          Daya racun zat
•          Waktu kontak yang diperlukan
•          Efektivitas zat
•          Kadar dosis yang digunakan
•          Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
•          Tahan terhadap air
•          Biayanya murah

                                                                                                                                                   6
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
Ø  Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
                                                                                                                                                  
1.5 Pengendalian Pencemaran Air
            Di indonesia program pengendalian pencemaran air telah di laksanankan pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama masyarakat industri seperti Porgram Kali Bersih Atau PROKASIH adalah prongram kerja pengendalian pencemaran air sungai dengan tujuan untuk meningkatkan Kualitas air sungai agar tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Program ini dituangkan dalam keputusan mentri negara lingkungan hidup nomor: kep-35/Menlh/7/1995 Tentang Program Kali Bersih. Dengan pertimbangan:
a.       Bahwa kali atau sungai merupakan sunber daya air yang penting bagi kebutuhan hidup manusia dan makhluk lainnya.
b.      Bahwa kualitas air sungai cendrung menurun sebagai akibat meningkatnya beban pencemaran yang bersumber dari kegiatan disepanjang aliaran sungai.
c.       Bahwa untuk meningkatkan kulitas air sungai agar tetap berfungsi sesui dengan peruntukannya, pemerintah telah mencanangkan Program Kali Bersih.
d.      Bahwa Program Kali Bersih tersebut telah di laksanakan oleh pemerintah daerah di berbagi provinsi pada beberapa sungai dengan melibatkan berbagai instansi terkait di daerah.
e.       Bahwa untuk memantapkan keberadaan Program Kali Bersih sebagai Program Nasional dan untuk meningkatkan kelancaran serta mengembangkan kegiatan Program Kali Bersih, maka di pandang perlu menetapkan keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup tentang Program Kali Bersih. 
Pemerintah juga berusaha untuk menjga kualitas air dengan membuat Peraturan Pengendalian Air sebagai upaya untuk melanksanakan ketentuan pasal 41 Ayat 7 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air,Maka Di Tetapkan Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup Tentang Pedoman Mengenaisarat Dan Tata Cara Perijinan Serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah Keair Atau Sumber Air.






                                                                                                                                       7
1.6  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Indonesia sudah diatur dalam
Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1999 . Pada   BAB I, Ketentuan Umum ,Pasal 1 dalam Peraturan Pemerintah ini diberikan penjelasan :
1.      Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
2.      Limbah bahan berbahan dan beracun ,disingkat limbah B3 ,adalah sisa suatu dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan /atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasi nya dan/atau jumlahnya,baik secara langsung maupun tidak langsung,dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup,dan/atau dapat membahayakann lingkungan hidup,kesehatan ,kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.    
3.      Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi ,penyimpanan,pengumpulan,pengangkutan,pemanfaatan,pengelolaan,dan penimbunan limbah B3
4.      Reduksi  limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3,sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan.
5.      Penghasil limbah B3 adlah orang yang usaha dan/atau kegiatan nya menghasilkan limbah B3
6.      Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpul dengan tujuan untuk mengunpulkan limbah B3 sebelum dikirim ketempat pengelolaan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3.
7.      Pengangkut limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3
8.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3.
9.      Pengelolaan limbah B3 adalah badan usaha yang mengoperasikan sarana pengolahan limbah B3
10.  Penimbunan limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3.


















                                                                                                                                                   8

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk mengetahui suatu limbah merupakan limbah berbahaya dan beracun atau bukan dapat dengan melakukan uji kualitatif dan kuantitatif.Dalam uji kuantitatif dapat menggunakan parameter pH, reaktifitas air, pengoksidasian, mudah terbakar, kandungan amonia, kandungan sianida dan kandungan sulfida.
Membutuhkan peran semua pihak untuk mewujudkan pengelolaan yang lebih baik dalam setiap masalah lingkungan.Pemerintah,pelaku industri dan masyarakat umum butuh informasi yang lengkap dan akurat tentang pengolahan limbah cair. Makalah ini kemudian kedepannya dapat digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan guna menyiasati masalah pengolahan limbah cair dan masayarakat dihimbau mampu meminimalisir limbah-limbah terutama pada limbah rumah tangga
Pengolahan limbah terdiri dari 3 yaitu,pengolahan limbah primer,sekunder,dan tersier.


































9
                                                                                                                                                  
DAFTAR PUSTAKA

Koosbandiah, Hertien Surikarti. (2011). Tosikologi Lingkungan dan Metode Uji Hayati.Bandung : Rizqi Press.

Situmorang,Manihar.2012.Kimia Lingkungan.Medan.Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam Universitas Negeri Medan.
Anonim.(2010).Pengelolaanlimbah B3[Online].Tersedia:http://k3pelakan.blogspot.com/2010/11/pengelolaan limbah bahan bebahaya dan html.[10 Oktober 2014].



           
































10
























10